FLASHINFO.ID Seni – Perjalanan seorang seniman tidak selalu dibentuk oleh pilihan yang direncanakan. Ada kalanya kehidupan menghadirkan jalan yang sama sekali tak terduga, namun justru menjadi sumber inspirasi baru.
Pengalaman itulah yang kini dihadirkan perupa Bali, Made Wiradana, melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang berlangsung di Santrian Art Gallery, Sanur, Denpasar, pada 10 Juli hingga 30 Agustus 2026.
Pameran ini menjadi penanda babak baru dalam perjalanan kreatif Made Wiradana setelah pada 2024 ia menerima panggilan untuk mengemban tugas sebagai pemangku di pura desanya. Perubahan tersebut tidak hanya mengubah peran sosialnya di tengah masyarakat, tetapi juga menghadirkan pengalaman spiritual yang kemudian memengaruhi cara ia memaknai proses berkesenian.
Kurator pameran, I Made Susanta Dwitanaya, menjelaskan, kehidupan masyarakat Bali tidak pernah terlepas dari hubungan antara dunia yang terlihat (sekala) dan yang tak kasatmata (niskala). Dalam ruang kehidupan seperti itu, seseorang dapat menerima panggilan hidup yang diyakini sebagai bagian dari swadharma, sebuah tugas yang dipercayakan sebagai bentuk pengabdian.
Konsep itulah yang menjadi dasar lahirnya tema Kacatri sebuah istilah dalam bahasa Bali yang merujuk pada sesuatu yang telah digariskan atau ditakdirkan. Bagi Made Wiradana, panggilan menjadi pemangku bukanlah sesuatu yang direncanakan, melainkan perjalanan hidup yang diterima dengan penuh kesadaran.
”Bagi Made, garis bukan sekadar elemen yang membentuk komposisi visual. Setiap goresan merupakan jejak dari proses berpikir, merasakan, dan berimajinasi. Apa yang muncul di atas kanvas tidak hanya berasal dari ingatan secara intelektual, tetapi juga dari pengalaman tubuh yang telah terbentuk melalui proses berkarya yang terus menerus” ujar Made Susanta.saat pembukaan pameran Kacatri di Santrian Art Gallery Sanur pada Jumat, 10 Juli 2026.
Pengalaman tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam karya-karyanya yang bwrtema Rerajahan.
“Meskipun terpengaruh oleh rerajahan, saya menggunakan inspirasinya saja dengan teknik yang tetap kontemporer. Jadi, saya tidak melukis rerajahan itu sendiri, melainkan terinspirasi darinya,” jelas Made Wiradana.
Made Wiradana mengatakan, sejak 2024 karya lukisnya telah berubah, dari lukisan primitif menjadi rerajahan.
“Dulu, lukisan saya beraliran primitif yang mengangkat tema gua layang-layang, tetapi sekarang beralih ke rerajahan,” jelasnya.
Menurutnya, rerajahan itu memiliki banyak simbol. Meskipun berkesan sakral, akan tetapi jika rrajahan dibawa ke ranah seni rupa, hasilnya akan berbeda.
Dikatakan Made, rerajahan tradisional hanya berwarna hitam putih. Akan tetapi, ketika dituangkan ke dalam ide lukisan, Made menambahkan aksen-aksen warna. Meski begitu, bentuk-bentuk manusia dan simbol-simbol rerajahan itu tetap ada di dalamnya.
“Melalui lukisan ini, saya juga ingin agar orang-orang mengenal rerajahan di Bali. Rerajahan itu sendiri sebenarnya bersifat sakral, tetapi ketika dituangkan ke dalam lukisan, kesannya menjadi berbeda,” kata Made Wiradana.
Ia juga melihat dari sisi mistik, karakter, bentuk serta rupa dari rerajahan itu sangat mistis. Hal itu membuat dirinya tertarik dan menuangkanya ke dalam seni lukis.
“Hal itulah yang membuat saya tertarik untuk menuangkannya ke dalam kanvas dan memamerkannya hari ini,” ujarnya.
Pameran ini menjadi ruang dialog antara seni, spiritualitas, dan identitas, sekaligus menunjukkan bahwa pengalaman hidup dapat menjadi sumber penciptaan yang terus berkembang.

















